Cherry
Blossoms
Percaya
pada impianmu, dan perbanyaklah harapanmu sebanyak helai daun pohon “ cherry
blossoms “
Cap : 1. Masa lalu
Jadi, apa hal yang dapat membuatmu menangis dan
tersenyum dalam waktu yang bersamaan ? Apa karena melihat seorang idolamu
berjalan sembari tersenyum kearahmu ? Atau ketika melihat seseorang yang kau
sayangi terbaring lemah didipan rumah sakit sembari membisikkan janji bahwa ia
akan terus hidup. Hidup untuk bersamamu selama yang ia mampu, hidup untuk
menjagamu dengan badanya yang lemah.
Lihatlah, jika kau melihat pemandangan itu dengan
kedua matamu, apa masih ada hal yang mampu menghentikan air matamu yang
mengalir dengan senyuman yang masih terkembang ?
12
tahun yang lalu,
Seohyun tergugu, mendekap lututnya erat-erat, sesekali
mengahapus air matanya dengan ujung sweater merah mudanya yang telah lembab.
Wajahnya benar-benar kusut, sudah lama ia menangis sepertinya. Menangis diujung
lorong rumah sakit, sendirian.
Ia menangis bukan karena keegoisan seorang anak
kecil karena tidak diizinkan membeli sesuatu oleh orangtuanya. Tapi, ia
menangis tersedu karena kakak laki-laki satu-satunya terkapar lemah karena
penyakit jantung bawaan. Shi Yoon, kakaknya yang lemah. Yang membuat Seohyun
menangis sepanjang tahun karena melihat betapa lemah kakaknya itu.
“ Masih ingin menangis ? “
Tangis Seohyun terhenti, mendongakkan wajahnya
keatas, ada seseorang yang menyapa. Sebenarnya ia sangat malas acara tangisnya diganggu orang lain. Tapi kali
ini, ia berusaha menghentikan tangisnya saat seorang anak laki-laki yang tadi
menyapanya ikut duduk disebelahnya. Duduk dilantai sembari mendekap lutut.
Meniru gaya Seohyun.
“ Ah lihatlah, nuna ini menangis terlalu lama.
Wajahnya benar-benar jelek “
Seohyun menoleh galak. Siapa anak laki-laki yang berani
mengatainya jelek ? Bukankah semua teman dan gurunya mengakui wajahnya sangat
manis ? Dan, bukankah usianya tak jauh beda dengan anak laki-laki itu ?
“ Tidak perlu menatapku seperti itu, nuna “
Seohyun mendengus sebal, menghapus bekas tangisnya
sejenak kemudian. Berdiri, ingin meninggalkan anak laki-laki menyebalkan itu. “
Aku tidak jelek, asal kau tahu. Dan aku juga tidak setua yang kau bayangkan “
“ Apa ada orang yang lebih jelek daripada gadis
kecil yang menangis diujung lorong, sendirian ? Menangis dengan menekuk kepala
dan menutup wajah, membuat setiap orang yang melihatnya kasihan ? “
Seohyun kembali mendengus sebal, melangkah pergi. “
Terserah apa katamu, tapi setidaknya sikapmu terlalu berlebihan untuk anak
berusia 7 tahun “
Anak laki-laki itu tertawa, membiarkan Seohyun
melangkah pergi. Namun sejenak kemudian, ia tersadar. Bagaimana mungkin gadis
kecil itu dapat menebak umurnya dengan benar ? Ah, sudahlah. Mungkin saja gadis
kecil itu mengenalnya lewat panggilan suster setiap kali ia akan memasuki ruang
pemeriksaan. Bukankah ia sudah cukup lama bersahabat dengan seluruh senti dari
Rumah Sakit ini ?
Anak laki-laki itu bangkit dari duduknya sesaat
setelah namanya terdengar diresepsionis, saatnya pemeriksaan. Ini sudah
aktifitas tahunan baginya.
------------
Sesungguhnya Seohyun tidak tahu anak itu bernama Kyuhyun, juga tidak tahu jika ia berumur 7 tahun. Seohyun hanya mengira-ngira, menerka dengan melihat postur tubuh kurus anak laki-laki itu.
TBCC~~~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar